Rabu, 26 Juni 2013

Tugas Akhir Membaca Komprehensif

MARMUT MERAH JAMBU YANG MUDAH JATUH CINTA
Judul : Marmut Merah Jambu
Nama pengarang : Raditya Dika
Penerbit : Bukune
Halaman : 218 Halaman



Novel ini di buat oleh penulis dalam rangka menyalurkan tulisan penulis yang tidak tersalurkan lebih baik. Novel ini menceritakan perjalanan cinta penulis dari masa SMP sampai masa sekarang. Menceritakan juga fenomena tentang cinta di sekitar penulis. Novel ini dipenuhi kelucuan, kekonyolan dan komedi di setiap bagian dari ceritanya. Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dipahami untuk semua kalangan.



Selama gue hidup, gue hampir selalu jadi orang yang naksir duluan sama cewek. Gue biasanya cuman butuh lima detik buat naksir sama seseorang. Dimulai dari gue ngeliat si cewek di kelas, atau dikenalin temen, atau dari kawinan, dan gue ngeliat si cewek selama lima detik lalu... jebret! Tiba-tiba gue mendapati diri gue naksir habis-habisan sama cewek itu. Biasanya pula, gue ditolak sama cewek yang gue taksir itu. Ditolaknya pun bermacam-macam, ada yang nyuruh temennya nolakin, ada yang nolak didepan muka, ada yang menolak dengan tertawa terbahak-bahak.
Kalaupun ada yang naksir duluan sama gue, entah kenapa, biasanya orang aneh. Gue pernah ditaksir dari mulai cewek yang bau jempol, sampai ke cewek yang mukanya kayak jempol. Aneh-aneh semua. Seperti cewek cantik menarik cowok ganteng, dengan banyaknya cewek aneh yang tertarik sama gue, dengan sendirinya membuktikan bahwa... jangan-jangan gue emang aneh.
Ini adalah salah satu kejadian gue ditaksir cewek aneh yang gue gak pernah lupa sampai sekaarang. Kejadian ini terjadi di tahun 2005, beberapa bulan setelah gue menerbitkan buku Cinta Brontosaurus. Dan ini semua bermula dari teriakan pembantu gue di suatu pagi buta.
‘Bang!’ kata pembantu gue, membangunkan gue yang setengah ngiler. ‘Bangun, Bang! Bangun, Bang!’
‘A.. apa?’ tanya gue, dengan suara parau.
‘Ada telepon di bawah.’
Gue ngeliat ke jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Manusia macam apa yang menelepon orang pukul setengah lima pagi? Dengan nyawa yang masih berceceran, gue pergi ke arah telepon.
‘Halo? Siapa ya?’ tanya gue. Lalu berdehem.
Gue mendengar suara orang berbisik, ‘Di... Dika....’
‘Yaaa?’
‘Diii... Dikkkaaaa....’
‘INI SIAPA YA?’
Tut. Tut tut. Telepon mati.
Gue bengong.
Gue bingung, ini gue udah bangun apa belom sih?
Tidak lama kemudian, telepon bunyi lagi.
‘Halo?’ tanya gue.
‘D... Dika... ini Nina....’
‘Nina siapa ya?’
‘Nina. Sebentar.’ Terdengar si Nina menyerahkan teleponnya kepada seseorang. Lalu terdengar suara lagi, ‘Halo, Dika? Ini Nini.’
‘Ha? Nina? Nini? Ini ada apa sih?!’
‘Kita suka sama lo.’
Tut. Tut. Tut. Telepon mati lagi.
Gue bengong.
..............................................................
Di tengah-tengah gue lagi menyelesaikan menulis untuk buku ini, di bulan Oktober 2009, gue dan pacar berjalan melihat-lihat binatang yang ada di Toolonga Zoo Park, Sydney. Ini adalah pertama kalinya kita pacaran ke kebun binatang, dan untungnya, kita pacaran i sebuah kebun binatang di Sydney, yang bersih dan teratur. Sangat berbeda dengan pacaran di Ragunan, di mana baru jalan beberapa langkah pasti udah ada yang nawarin tiker, atau es krim, atau kombinasi antara es krim dan tiker. Pacaran di kebun binatang punya banyak keuntungan, seperti misalnya gue ngerasa pede karena yang gue lihat hampir selalu lebih jelek daripada kita. Kita berjalan udah cukup lama hari itu sebelum akhirnya berhenti di salah satu kandang. Dia menunjuk ke arah koala yang sedang tidur sambil berkata, ‘Lihat, itu ada koala, lucu banget.’
Gue melihat ke arah koala yang dia tunjuk. Gue tidak mengerti apa lucunya gumpalan abu-abu yang diam saja nempel di batang pohon. Koala tersebut sedang santai memakan daun eucalyptus seolah-olah tidak terjadi apa-apa di dalam hidupnya.
..............................................................
Kita lalu berjalan-jalan mengelilingi zoo melihat binatang demi binatang. Pacaran di tengah-tengah binatang ini sambil melihat dari satu kandang ke kandang lain membuat gue berpikir, apa binatang mampu jatuh cinta?
Satu hal yang gue tahu pasti,
binatang punya kebiasaan yang aneh ketika jatuh cinta.
Ambil contoh belalang sembah. Setiap belalang sembah abis kawin, belalang sembah yang betina akan memakan kepala yang jantan. Kasian banget ya? Mereka baru saja mengalami malam pertama, si belalang jantan jadi gak perjaka... eh palanya dimakan ama yang cewek. Serem memang, tapi yang jadi pertanyaan tak terjawab adalah: kalo gitu, kenapa masih ada belalang yang mau kawin? Apakah belalang-belalang jantan ini gak dikasih tahu sama emak belalang (bapaknya gak ada, karena pasti udah mati), ngumpul di ruang tamu dan dibilangin: ‘Nak, jangan kawin ya... ntar pala kamu buntung.’ Apakah mereka gak denger gosip-gosip dari temen-temen mereka (sesama belalang) atas hal ini? Kenapa masih ada belalang yang masih mau kawin?
Gue mengambil kesimpulan sendiri: semua belalang jantan udah tahu kalo kepala mereka bakalan dimakan kalau mereka kawin, tapi mereka tetep mau kawin. Kesimpulannya: belalang jantan berani mati demi cinta. Kesimpulannya lagi: tidak ada yang lebih romantis daripada percintaan antara dua belalang. Gue tidak akan mungkin seberani belalang-belalang jantan ini. Kalau gue jadi belalang jantan, hal yang pertama kali gue lakukan adalah mendeklarasikan kalau gue homo, cari belalang jantan lain yang masih berondong dan kawin di Belanda.
..............................................................
Alih-alih seperti belalang, gue merasa seperti seekor marmut berwarna merah jambu yang terus-menerus jatuh cinta, loncat dari satu relationship ke yang lainnya, mencoba berlari dan berlari di dalam roda bernama cinta, seolah-olah maju, tapi tidak... karena sebenarnya jalan di tempat. Entah sudah berapa kali gue naksir orang sebelum bertemu pacar gue yang sekarang ini. Entah berapa kali patah hati, berantem, cemburu yang gue alami sebelum ketemu dia. Entah berapa kali nembak dan putus, seolah-olah gue berlari dan berlari dari satu hubungan gagal ke hubungan gagal lainnya, seperti marmut yang tidak tahu kapan harus berhenti berlari di roda yang berputar. Dan hubungan kali ini, setiap gue memandangi dia, pertanyaan besar itu pun timbul: apakah sekarang saatnya berhenti?

Buku ini termasuk novel yang berjenis nonfiksi. Buku ini menceritakan pengalaman penulis dalam kehidupan sehari-harinya yang konyol dan gak pernah masuk akal. Penulis dari novel ini adalah Raditya Dika, seorang penulis dan pemain sinetron (spesialis adegan-adegan dianiaya). Raditya Dika lahir di Jakarta pada tanggal 28 Desember 1984. Setelah kuliah di Adelaide University, Australia, sekarang dia aktif menulis untuk buku, film layar lebar, dan sedang sibuk-sibuknya jatuh cinta. Buku-bukunya yang telah terbit: Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot, dan lain-lain.

Buku ini sangat diminati banyak orang, karena buku ini menceritakan semua kekonyolan yang ada didalam diri sang penulis. Buku ini sangat cocok untuk pembaca yang memiliki selera humoris tinggi. Raditya Dika juga menuliskan buku ini dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Didalam buku ini masih terdapat banyak kata-kata yang tidak patut untuk dicontoh, karena masih banyak sekali kata-kata yang kurang sopan. Dalam buku ini juga terdapat kekonyolan yang tidak patut juga ditiru. Sikap yang tidak baik juga jangan sampai ditiru
Hubungan novel ini dengan karangan raditya dika lainnya adalah sama-sama memiliki unsur komedi. Gaya bahasa pun hampir sama dengan yang lain, mudah dimengerti pembaca. Dibandingkan dengan novel kambing jantan pun hampir sama antara gaya bahasa, tema, dan bagaimana penulis menggambarkan keadaan lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar