MARMUT
MERAH JAMBU YANG MUDAH JATUH CINTA
Judul :
Marmut Merah Jambu
Nama
pengarang : Raditya Dika
Penerbit :
Bukune
Halaman :
218 Halaman
Novel
ini di buat oleh penulis dalam rangka menyalurkan tulisan penulis
yang tidak tersalurkan lebih baik. Novel ini menceritakan perjalanan
cinta penulis dari masa SMP sampai masa sekarang. Menceritakan juga
fenomena tentang cinta di sekitar penulis. Novel ini dipenuhi
kelucuan, kekonyolan dan komedi di setiap bagian dari ceritanya.
Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dipahami untuk semua
kalangan.
Selama
gue hidup, gue hampir selalu jadi orang yang naksir duluan sama
cewek. Gue biasanya cuman butuh lima detik buat naksir sama
seseorang. Dimulai dari gue ngeliat si cewek di kelas, atau dikenalin
temen, atau dari kawinan, dan gue ngeliat si cewek selama lima detik
lalu... jebret!
Tiba-tiba gue mendapati diri gue naksir habis-habisan sama cewek itu.
Biasanya pula, gue ditolak sama cewek yang gue taksir itu. Ditolaknya
pun bermacam-macam, ada yang nyuruh temennya nolakin, ada yang nolak
didepan muka, ada yang menolak dengan tertawa terbahak-bahak.
Kalaupun
ada yang naksir duluan sama gue, entah kenapa, biasanya orang aneh.
Gue pernah ditaksir dari mulai cewek yang bau jempol, sampai ke cewek
yang mukanya kayak jempol. Aneh-aneh semua. Seperti cewek cantik
menarik cowok ganteng, dengan banyaknya cewek aneh yang tertarik sama
gue, dengan sendirinya membuktikan bahwa... jangan-jangan gue emang
aneh.
Ini
adalah salah satu kejadian gue ditaksir cewek aneh yang gue gak
pernah lupa sampai sekaarang. Kejadian ini terjadi di tahun 2005,
beberapa bulan setelah gue menerbitkan buku Cinta
Brontosaurus.
Dan ini semua bermula dari teriakan pembantu gue di suatu pagi buta.
‘Bang!’
kata pembantu gue, membangunkan gue yang setengah ngiler. ‘Bangun,
Bang! Bangun, Bang!’
‘A..
apa?’ tanya gue, dengan suara parau.
‘Ada
telepon di bawah.’
Gue
ngeliat ke jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul setengah lima
pagi. Manusia macam apa yang menelepon orang pukul setengah lima
pagi? Dengan nyawa yang masih berceceran, gue pergi ke arah telepon.
‘Halo?
Siapa ya?’ tanya gue. Lalu berdehem.
Gue
mendengar suara orang berbisik, ‘Di... Dika....’
‘Yaaa?’
‘Diii...
Dikkkaaaa....’
‘INI
SIAPA YA?’
Tut.
Tut tut. Telepon mati.
Gue
bengong.
Gue
bingung, ini gue udah bangun apa belom sih?
Tidak
lama kemudian, telepon bunyi lagi.
‘Halo?’
tanya gue.
‘D...
Dika... ini Nina....’
‘Nina
siapa ya?’
‘Nina.
Sebentar.’ Terdengar si Nina menyerahkan teleponnya kepada
seseorang. Lalu terdengar suara lagi, ‘Halo, Dika? Ini Nini.’
‘Ha?
Nina? Nini? Ini ada apa sih?!’
‘Kita
suka sama lo.’
Tut.
Tut. Tut. Telepon mati lagi.
Gue
bengong.
..............................................................
Di
tengah-tengah gue lagi menyelesaikan menulis untuk buku ini, di bulan
Oktober 2009, gue dan pacar berjalan melihat-lihat binatang yang ada
di Toolonga Zoo Park, Sydney. Ini adalah pertama kalinya kita pacaran
ke kebun binatang, dan untungnya, kita pacaran i sebuah kebun
binatang di Sydney, yang bersih dan teratur. Sangat berbeda dengan
pacaran di Ragunan, di mana baru jalan beberapa langkah pasti udah
ada yang nawarin tiker, atau es krim, atau kombinasi antara es krim
dan tiker. Pacaran di kebun binatang punya banyak keuntungan, seperti
misalnya gue ngerasa pede karena yang gue lihat hampir selalu lebih
jelek daripada kita. Kita berjalan udah cukup lama hari itu sebelum
akhirnya berhenti di salah satu kandang. Dia menunjuk ke arah koala
yang sedang tidur sambil berkata, ‘Lihat, itu ada koala, lucu
banget.’
Gue
melihat ke arah koala yang dia tunjuk. Gue tidak mengerti apa lucunya
gumpalan abu-abu yang diam saja nempel di batang pohon. Koala
tersebut sedang santai memakan daun eucalyptus
seolah-olah tidak terjadi apa-apa di dalam hidupnya.
..............................................................
Kita
lalu berjalan-jalan mengelilingi zoo
melihat binatang demi binatang. Pacaran di tengah-tengah binatang ini
sambil melihat dari satu kandang ke kandang lain membuat gue
berpikir, apa
binatang mampu jatuh cinta?
Satu
hal yang gue tahu pasti,
binatang
punya kebiasaan yang aneh ketika jatuh cinta.
Ambil
contoh belalang sembah. Setiap belalang sembah abis kawin, belalang
sembah yang betina akan memakan kepala yang jantan. Kasian banget ya?
Mereka baru saja mengalami malam pertama, si belalang jantan jadi gak
perjaka... eh palanya dimakan ama yang cewek. Serem memang, tapi yang
jadi pertanyaan tak terjawab adalah: kalo
gitu, kenapa masih ada belalang yang mau kawin?
Apakah belalang-belalang jantan ini gak dikasih tahu sama emak
belalang (bapaknya gak ada, karena pasti udah mati), ngumpul di ruang
tamu dan dibilangin: ‘Nak, jangan kawin ya... ntar pala kamu
buntung.’ Apakah mereka gak denger gosip-gosip dari temen-temen
mereka (sesama belalang) atas hal ini? Kenapa masih ada belalang yang
masih mau kawin?
Gue
mengambil kesimpulan sendiri: semua belalang jantan udah tahu kalo
kepala mereka bakalan dimakan kalau mereka kawin, tapi mereka tetep
mau kawin. Kesimpulannya: belalang jantan berani mati demi cinta.
Kesimpulannya lagi: tidak ada yang lebih romantis daripada percintaan
antara dua belalang. Gue tidak akan mungkin seberani
belalang-belalang jantan ini. Kalau gue jadi belalang jantan, hal
yang pertama kali gue lakukan adalah mendeklarasikan kalau gue homo,
cari belalang jantan lain yang masih berondong dan kawin di Belanda.
..............................................................
Alih-alih
seperti belalang, gue merasa seperti seekor marmut berwarna merah
jambu yang terus-menerus jatuh cinta, loncat dari satu relationship
ke yang lainnya, mencoba berlari dan berlari di dalam roda bernama
cinta, seolah-olah maju, tapi tidak... karena sebenarnya jalan di
tempat. Entah sudah berapa kali gue naksir orang sebelum bertemu
pacar gue yang sekarang ini. Entah berapa kali patah hati, berantem,
cemburu yang gue alami sebelum ketemu dia. Entah berapa kali nembak
dan putus, seolah-olah gue berlari dan berlari dari satu hubungan
gagal ke hubungan gagal lainnya, seperti marmut yang tidak tahu kapan
harus berhenti berlari di roda yang berputar. Dan hubungan kali ini,
setiap gue memandangi dia, pertanyaan besar itu pun timbul: apakah
sekarang saatnya berhenti?
Buku
ini termasuk novel yang
berjenis
nonfiksi. Buku ini menceritakan pengalaman penulis dalam kehidupan
sehari-harinya yang konyol dan gak pernah masuk akal. Penulis dari
novel ini adalah Raditya Dika, seorang penulis dan pemain sinetron
(spesialis adegan-adegan dianiaya). Raditya Dika lahir di Jakarta
pada tanggal 28 Desember 1984. Setelah kuliah di Adelaide University,
Australia, sekarang dia aktif menulis untuk buku, film layar lebar,
dan sedang sibuk-sibuknya jatuh cinta. Buku-bukunya yang telah
terbit: Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi
Ngesot, dan lain-lain.
Buku
ini sangat diminati banyak orang, karena buku ini menceritakan semua
kekonyolan yang ada didalam diri sang penulis. Buku ini sangat cocok
untuk pembaca yang memiliki selera humoris tinggi. Raditya Dika juga
menuliskan buku ini dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Didalam
buku ini masih terdapat banyak kata-kata yang tidak patut untuk
dicontoh, karena masih banyak sekali kata-kata yang kurang sopan.
Dalam buku ini juga terdapat kekonyolan yang tidak patut juga ditiru.
Sikap yang tidak baik juga jangan sampai ditiru
Hubungan
novel ini dengan karangan raditya dika lainnya adalah sama-sama
memiliki unsur komedi. Gaya bahasa pun hampir sama dengan yang lain,
mudah dimengerti pembaca. Dibandingkan dengan novel kambing jantan
pun hampir sama antara gaya bahasa, tema, dan bagaimana penulis
menggambarkan keadaan lingkungan.
